Monday, August 11, 2025

Berdamai: Oh, seperti ini ya memahami secara utuh (mengenal logika dan persaaan)

Series Berdamai: Oh, seperti ini ya memahami secara utuh (mengenal logika dan perasaan)
12/08/25 2:17 a.m.


Hai hai, jadi sebelum masuk ke tulisannya, I would like to introduce series ini. Berdamai, seperti namanya, didedikasikan sebagai tempat ku menaruh cerita atas perjalanan yang membuat ku tersadar akan hal-hal yang sering kali terlewat kan. Semoga, selain menjadi ranah refleksi, series ini juga dapat membuat lebih tertuntun pada perjalanan selanjutnya.


Prolog:

Memasuki bangku perkuliahan cukup mendorong ku untuk menempatkan logika di setiap keputusan yang di ambil. Dulu, pernah ada satu kutipan dari video QnA sebuah band idola, personilnya diberi pilihan antara logika dan perasaan. Karena menganggap band itu merepresentasikan bentuk seni, jawaban "perasaan" tentu akan mendominasi. Tapi, asumsi itu dibantah dengan jawaban yang berkata sebaliknya. 

Kaget, tentu. Aku yang bisa dibilang cukup naif kala itu merasa tak terima, "bisa-bisanya musisi berkarya tanpa hati, tanpa perasaan". Kebingungan itu terus ku pertanyakan. Hingga kini aku tersadar, mereka yang seringkali dikondisikan oleh realitas, cenderung menghiraukan perasaan untuk menghindari kemungkinan hasil yang tak pasti. Perhitungan sangat dibutuhkan untuk membantu dalam memastikan akurasi atas suatu kemungkinan, sehingga hidup dapat tetap berjalan, tanpa terjebak. 

Dari refleksi itu, di sini, aku ingin cerita mengenai suatu perjalanan dalam memahami hubungan antara logika dan perasaan, melalui perjalanan dalam memahami sosok yang cukup membuat ku berada di tengah interseksi keduanya.


Inti:

Keinginan untuk mengenal seseorang lebih dalam hadir ketika kamu melihat adanya keindahan di dalamnya. Aku gak bisa bohong kalau perasaan lah yang membantu dalam menemukan keindahan itu di dalam diri seseorang. 

Menurut buku Emotional Intelligence dari Daniel Goleman, otak kita dirancang untuk menangkap makna dari kejadian dalam bentuk perasaan, yang kemudian akan diinterpretasi untuk menghasilkan makna yang logis. Sehingga, mereka yang sering kali terburu-buru cenderung tidak membiarkan perasaan itu untuk diinterpretasi, dan membuat responnya tidak masuk dalam radar logika. 

Keindahan tersebut seringkali sukses menyulap situasi, dan membuat target untuk tidak dapat memproses makna secara utuh. Ini membuat perasaan di-kambing-hitamkan sebagai sesuatu yang seringkali mampu merubah si genius menjadi seperti tidak mengenal dirinya sendiri. 

Suatu perjalanan mengajarkan ku bahwa manusia tidak cukup untuk dimengerti melalui perasaan. Melainkan, logika yang juga perlu diikutsertakan di dalamnya.

Perasaan, tanpa bergandengan dengan logika, seringkali membuat kita lupa untuk berpikir, bahkan untuk mengendalikan gejolak nya sendiri, yang membuatnya berpotensi merusak momen dari sebuah perjalanan, khususnya dalam menjalin sebuah hubungan. 

Perasaan pada umumnya tercipta sebagai hasil dari suatu peristiwa, sehingga membuatnya memiliki nilai momentum. Emosi yang ada di dalam perasaan menjadi warna dalam suatu peristiwa, sehingga digunakan untuk memperkaya konteks nya. Pendefinisian ini ku dapatkan ketika aku merasa bahwa perjalanan yang dilandasi oleh perasaan seringkali membuat kita lupa untuk berpikir jernih, dan ini terjadi padaku. Sering, hehe.

Menurutku, nilai momentum itulah yang membuat dualisme atas sebuah perasaan, yang seringkali dianggap logis dan dijadikan sebagai kebenaran. Membuat kebenaran yang sesungguhnya dilupakan dan terpaksa untuk hadir ketika dunia sudah tidak kuat menahan rasa untuk membangunkan, bahkan menampar, dengan realitas. Dualisme pada nilai momentum tersebut lahir karena perasaan seringkali dipercaya sebagai respon murni manusia sehingga dianggap cukup valid untuk dijadikan sebagai kebenaran.

Padahal menurut Buku Daniel Goleman itu, perasaan yang mengandung makna valid, adalah perasaan yang diinterpretasikan dengan baik melalui proses tertentu.

Dalam konteks perjalanan ku, perasaan membuat ku gagal dalam memahami seseorang secara utuh, memahami bahwa seseorang yang tampil sempurna pun juga mempunyai luka dan sakit yang ia simpan. Sungguh, aku merasa kecewa saat mengetahui bahwa aku menghiraukan luka seseorang yang seharusnya diperhatikan dan dijaga, tak hanya agar tidak menjadi lebih parah tetapi juga untuk sembuh.

Teori dari buku tersebut awalnya belum bisa ku pahami secara utuh, sebelum aku mengalaminya sendiri dan ditampar oleh dunia. Hingga memahami bahwa setiap hal berhak untuk dipahami secara utuh, dengan logika serta perasaan yang tulus.


Epilog:

Bagian ini akan ku dedikasikan untuk seseorang yang berhasil menyembunyikan lukanya di balik topeng kesempurnaan, aku akan terus berdoa atas kesembuhan luka mu itu. Sebagai tanda bahwa kamu berhak untuk sembuh. 

Terimakasih sudah banyak mengajari ku pengalaman belajar yang menakjubkan, yang tak hanya sekedar memahami, tetapi juga menghormati. 



No comments:

Post a Comment

puisi: untuk nama yang singgah menerus

huruf terajut 'tuk dijadikan sebuah nama terbungkus oleh pilihan diksi yang indah rupanya. lantas, aku bertanya atas keindahan apa yang ...